Belajar Iqro’

Sebenarnya sudah lama Syifa kami perkenalkan dengan huruf hijaiyah. Kira-kira saat usianya hampir dua tahun. Saat itu kami memakai flash card yang kami beli di salah satu supermarket di Jogja. Ukuran yang cukup besar dengan warna-warna yang cerah membuat si kecil betah memainkannya beberapa waktu. Memang tahap itu baru memainkannya saja. Walaupun sudah diperkenalkan, tampaknya si kecil masih belum mampu menghafalnya.

Ketika menyusul ayahnya di Sydney, kartu-kartu itu tak lupa kubawa untuk belajar Syifa nanti. Awalnya kami mencoba lagi mengenalkan huruf-huruf tersebut sedikit demi sedikit. Kalau jalan-jalan ke park kami membawa tiga kartu saja, yaitu alif, ba, dan ta. Ya, baru tiga huruf itu yang kemi perkenalkan. Waktu untuk dia bisa menghafalnya pun ternyata cukup lama, karena kami tidak melulu mengenalkan huruf hijaiyah saja. Selama belajar, kami juga mengenalkannya pada surat pendek dan do’a sehari-hari, lalu juga huruf latin dan kata-kata bahasa Inggris. Nah, sampai di sini, ternyata kami lebih intens mengenalkan kata-kata bahasa Inggris kepadanya melalui sebuah video yang kami unduh dari internet. Praktis, menghafal huruf tersebut hanya mendapat porsi kecil dari waktu belajarnya :(

Selain di rumah, Syifa kami ajak ikut ke TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an). Alhamdulillah jauh sebelum kami datang, sudah ada beberapa orang Indonesia yang mendirikan sebuah TPA untuk anak-anak yang orang tuanya menjadi permanent resident di sini. Kebanyakan dari anak-anak itu adalah keturunan bule. Ibu mereka berkebangsaan Indonesia, namun ayah mereka adalah warga Australia. Ada juga yang ayahnya berkebangsaan Yordania. Di antara ibu-ibu itu ada pula yang muallaf. TPA ini dilaksanakan setiap hari Sabtu dan bertempat di salah satu ruangan di kampus UNSW. Sekali-sekali TPA juga menempati rumah salah satu orang tua siswa.

Tampaknya jika hanya mengandalkan sehari saja dalam seminggu, anak tidak akan mungkin bisa cepat mengenal huruf-huruf hijaiyah. Selain waktunya yang sedikit, sering si anak tergoda untuk bermain dengan temannya, atau hanya menggambar saja. Pada kegiatan TPA ini memang tidak melulu membaca iqro, karena anak-anak juga selalu diberikan kertas, baik untuk belajar menulis huruf hijaiyah maupun menggambar apa saja yang mereka suka selama menunggu giliran membaca iqro. Tentu saja bagi anak seusia Syifa yang belum bisa menulis huruf, lebih suka menggambar apa saja yang dia inginkan. Praktis waktu TPA hanya digunakan untuk menggambar (mencoret-coret) kertas saja. Jika tiba gilirannya membaca, tak pernah dia betah membaca walau hanya satu lembar. Jangankan satu lembar, bisa betah sampai dua baris saja sangat jarang terjadi.

Kami lalu memikirkan ide lain. Kami menempelkan beberapa huruf hijaiyah itu di dinding kamar, persis di sebelah bed. Dengan begitu, Syifa akan melihatnya setiap waktu dan lebih mudah menghafal huruf-huruf tersebut. Mulanya saya hanya menempelkan huruf-huruf yang berurutan saja, yaitu alif, ba, dan ta. Namun kemudian ayahnya berinisitaif untuk menempelkan huruf-uruf lebih banyak. Aku menurut saja, kutempelkan 13 huruf secara acak pada dinding itu dengan jarak yang agak berjauhan.

Setiap hari Syifa kami kenalkan dengan huruf-huruf tersebut satu per satu dan berulang-ulang. Dia pun menirukan apa yang kami ucapkan. Huruf-huruf yang kami tempelkan itu adalah a, ba, ta, tsa, ja, ha, kho, da, ro, za, sa, sya, dan sho. Tak disangka, lama-lama ia pun hafal juga. Kalau teman yang lain menghafal berurutan, Syifa menghafal huruf-huruf hijaiyah secara acak seperti yang kami tempel di dinding itu. Sampai saat ini, sudah 13 huruf tersebut yang dihafalnya, walupun kadang-kadang ketika ia memainkan flash cardnya kembali, ia pun mulai bertanya huruf-huruf baru yang belum kami perkenalkan, sehingga menambah daftar hafalan huruf-huruf hijaiyahnya. Huruf-huruf yang belum kami tempel namun dihafalnya adalah kaf, lam, mim, nun, dan ya.

Ide lain yang muncul adalah dengan menjaga hafalannya akan huruf-huruf tersebut. Karena kami belum memiliki iqro sendiri, maka saya berinisiatif untuk membuat sendiri buku semacam iqro tersebut. Saya buat selayaknya iqro yang ada. Dengan buku tulis biasa, saya buat urut-urutan per halaman, dari “a” hingga hafalan terakhir Syifa yaitu huruf “da”. Saya berniat kali ini untuk membuatnya urut, jadi memang dibuat semirip mungkin dengan iqro. Alhamdulillah, kali ini sudah sampai huruf “da”. Syifa pun mulai betah untuk membaca iqro buatan uminya itu, setelah sekian lama tak pernah mau membaca dengan betah walau selembar pun. Sekarang ia betah hingga tiga lembar.

Nantinya, jika huruf-huruf itu sudah semakin dihafalnya, baru akan meningkat ke huruf-huruf lainnnya, sampai huruf “ya”. Jika sudah sampai “ya”, nanti baru akan belajar huruf sambung dan juga belajar huruf dengan harokah yang berbeda, yaitu i dan u. Untuk harokah yang berbeda ini, Syifa baru hafal alif kasrah (i) dan alif dhommah (u) saja. Ia pun sudah bisa menggambar sendiri huruf alif fathah (a) dan alif kasrah (i).

Nanti kalaiu sudah sampai di Indonesia, yang akan kami lakukan adalah segera membelikan buku iqro’ untuk Syifa. Semoga terlaksana ya, Nak. Umi ingin Syifa segera pandai membaca Al Qur’an dengan baik, Insya Allah, semoga Allah memudahkan, amiin.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: