I Love Umi

“Aku pengen sama umi terus, soalnya aku sayang banget sama umi.”

Penggalan kalimat bernada memelas, yang bikin umi mengalah. Ya sudah, mba Syifa boleh tidur di kamar umi, tapi sebentar aja ya, nanti tidur di kamar sendiri.

Ya Allah, dia begitu menyayangiku. Tak tega rasanya menyuruhnya tidur di kamarnya sendiri. Tapi kami harus konsekuen. Dia harus bisa mandiri. Apalagi sudah punya dua adik. Tapi kenapa ya, kalimat di atas seakan bermakna bahwa dia masih butuh sekali untuk berada dekat dengan uminya.

Mba Syifa sudah hampir satu tahun sekolah fullday. Memang, waktunya bersamaku menjadi tak sesering dulu. Di rumah pun, ia lebih sering bermain sendiri. Membaca buku, mewarnai, atau bahkan makan pun tak ditemani.

Pernah suatu ketika karena aku sangat lelah dan ngantuk, Ia kubiarkan makan sendiri. Semua sudah tidur, kala itu jam 10 malam, dan ia masih merasa lapar. Padahal sudah makan sore juga.

Tak tahunya aku kebablasan tidur. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, sampai pagi hari aku menemukan piring tempat ia makan sudah bersih, berada di atas lemari baju kecil miliknya.

Anakku, maafkan umi ya, Nak…

Entah berapa kali umi marah kepadanya, mungkin hal sepele, makan lambat lah, dibangunin susah lah, atau hal-hal lain. Padahal jujur, dia satu-satunya anakku yang saat ini bisa meringankan beban uminya.

Makan, sudah sering sendiri.
Mandi, sudah bisa sendiri.
Cebok sudah berusaha untuk mandiri.
Pakai baju, sepatu, dll, dia bisa melakukan semuanya.
Bahkan dia selalu siap membantu umi mengambilkan air untuk cebok adik bayinya, juga menawarkan diri untuk mengganti popok adik bayinya.

“Mi, nanti kalau dek Aisha pipis bilang aku ya, aku mau belajar ngganti popok.” kurang lebih begitu pintanya.

Alhamdulillaah, syukurku kepada Allah. Dia anak yang baik.

Allah juga menitipkan putri yang insya Allah cerdas untuk kami. Di usianya yang belum genap 5 tahun, dia sudah pandai dan lancar membaca. Menulis sudah bisa, walau beberapa huruf dan angka sering terbalik🙂

Dia anak yang baik.
Allah, jangan jadikan aku ibu yang membuatnya sedih.
Jangan jadikan rasa marahku ini berlebihan kepadanya, tahanlah rasa marahku ketika menghadapi sifat kekanak-kanakannya, karena akalnya memang belum sesempurna kami yang telah dewasa.

Allah, astaghfirullaah… atas segala hal yang kuperbuat selama ini yang mungkin telah menjadikannya sedih.

Umi juga sayang kamu, anakku…

 

***

@11.31 p.m

Saat mba Syifa dan yang lain sudah terlelap.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: